Refleksi Atas APOSTOLIC EXHORTATION DILEXI TE
Kasih yang Mengambil Wajah Kaum Miskin: Refleksi Teologis-Kontekstual atas Seruan Apostolik Dilexi Te Paus Leo XIV
Abstrak
Seruan Apostolik Dilexi Te (2025) dari Paus Leo XIV memperbarui panggilan Gereja untuk menyalurkan kasih Kristus secara konkret di tengah dunia yang dilukai oleh ketimpangan sosial dan kemiskinan struktural. Dokumen ini menampilkan kasih sebagai wajah Allah yang berpihak kepada kaum miskin, serta mengajak Gereja untuk menghidupi spiritualitas kasih yang membebaskan dan memberdayakan. Tulisan ini menafsirkan pesan teologis Dilexi Te dalam terang tradisi sosial Gereja dan menempatkannya dalam konteks sosial Indonesia, di mana kemiskinan bukan sekadar kekurangan materi, melainkan realitas historis, kultural, dan spiritual yang menuntut respons teologis kontekstual.
Kata Kunci: Dilexi Te, Paus Leo XIV, kasih sosial, Gereja miskin, teologi kontekstual, kemiskinan struktural.
1. Pendahuluan
Seruan Apostolik Dilexi Te (4 Oktober 2025) merupakan dokumen penting Paus Leo XIV yang menyoroti relasi antara kasih Kristus dan realitas kemiskinan zaman ini. Terinspirasi oleh Wahyu 3:9 “Aku telah mengasihimu” Paus menegaskan bahwa kasih Allah tidak berhenti pada ranah spiritual, melainkan diwujudkan dalam tindakan sosial yang konkret terhadap mereka yang tertindas.
Kasih dalam Dilexi Te bukan konsep moral universal, melainkan pengalaman iman yang menuntun Gereja untuk berjalan bersama kaum miskin sebagai bagian integral dari pewartaan Injil. Dalam konteks dunia global yang diwarnai ketimpangan ekonomi, konsumerisme, dan kemiskinan digital, Paus Leo XIV mengingatkan bahwa “kasih sejati menuntut perubahan struktur sosial agar manusia tidak hanya hidup, tetapi hidup dalam martabat.”¹
Dengan demikian, Dilexi Te berdiri dalam kesinambungan tradisi ajaran sosial Gereja sejak Rerum Novarum (1891), Populorum Progressio (1967), Sollicitudo Rei Socialis (1987), hingga Evangelii Gaudium (2013), yang semuanya menegaskan panggilan untuk berpihak kepada kaum miskin dalam semangat preferential option for the poor.²
2. Kasih sebagai Wajah Allah yang Membebaskan
Paus Leo XIV membuka dokumen dengan pernyataan teologis yang kuat: “Allah adalah kasih” (1Yoh 4:8), dan kasih itu menemukan puncaknya dalam Yesus Kristus yang memilih menjadi miskin demi keselamatan manusia (2Kor 8:9). Kemiskinan Kristus bukan simbol penderitaan, tetapi ekspresi solidaritas Allah dengan umat manusia.³
Kasih dalam Dilexi Te bersifat transformatif: ia tidak berhenti pada empati, melainkan menuntut perubahan sosial. Paus menulis,
“To love as Christ loves is to see the world through the eyes of the poor.”⁴
Dengan melihat dunia dari perspektif kaum miskin, Gereja memasuki dimensi kasih yang membebaskan (caritas liberans). Pandangan ini sejalan dengan Gustavo Gutiérrez yang menyebut bahwa kemiskinan bukan sekadar kondisi sosial, tetapi tempat teologis perjumpaan dengan Allah.⁵
Dalam teologi ini, kasih menjadi praxis: doa dan tindakan, liturgi dan keadilan, saling berkelindan. Kasih bukan lagi ide moral, melainkan cara Gereja menghidupi Injil dalam realitas dunia.
3. Gereja Miskin dan untuk Kaum Miskin
Paus Leo XIV menegaskan bahwa Gereja sejati adalah Gereja yang miskin dan untuk kaum miskin.⁶ Ia tidak hanya dipanggil untuk menolong yang miskin, tetapi untuk menjadi miskin dalam semangat dan praksisnya. Dengan demikian, kasih yang diwartakan Gereja tidak menjadi karitatif belaka, melainkan partisipatif dan dialogis.
Ia menulis,
“The Church must not only speak about the poor but speak with them, and from their side.”⁷
Gereja dipanggil untuk mendengarkan jeritan mereka yang miskin sebagai Sabda Allah yang hidup the cry of the poor as locus theologicus. Dalam hal ini, Dilexi Te menghadirkan Gereja sinodal yang berjalan bersama umat, terutama mereka yang tersingkir.
Dalam konteks pastoral Indonesia, ajakan ini menemukan relevansinya pada wilayah-wilayah 3-T seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku, dan Papua di mana kemiskinan bukan hanya ekonomi, tetapi juga kultural dan ekologis. Gereja di daerah-daerah ini diundang menjadi Ecclesia Pauperum: bukan Gereja yang memberi dari atas, tetapi Gereja yang hadir dari dalam kehidupan rakyat kecil.
4. Konteks Sosial Indonesia: Kemiskinan sebagai Realitas Struktural dan Spiritualitas
Kontekstualisasi Dilexi Te menuntut pembacaan ulang istilah “orang miskin” secara sosial dan teologis. Dalam konteks Indonesia, kemiskinan bukan hanya masalah angka statistik, melainkan gejala struktural yang berakar pada ketimpangan pembangunan, korupsi, dan marginalisasi wilayah timur.
Data BPS menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan tertinggi di Indonesia masih berada di kawasan timur NTT, Papua, dan Maluku dengan keterbatasan akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan yang layak.⁸ Namun di balik statistik itu tersembunyi realitas spiritual: ketahanan, solidaritas, dan daya hidup masyarakat miskin yang sering luput dari pandangan ekonomi formal.
Teologi kontekstual melihat kemiskinan bukan sebagai “aib sosial,” tetapi sebagai ruang penyingkapan kasih Allah. Dalam kemiskinan, manusia menemukan Allah yang turut menderita.⁹ Kasih kepada orang miskin dalam konteks ini berarti membangun sistem sosial yang memberdayakan bukan sekadar memberi bantuan, melainkan memulihkan martabat.
Oleh karena itu, Dilexi Te dapat dibaca sebagai panggilan bagi Gereja Indonesia untuk:
~ Mengembangkan pendekatan pemberdayaan pastoral (pastoral empowerment) alih-alih bantuan sesaat. Ingat filosofi mata kail. Beri kail bukan ikan.
~ Mendorong spiritualitas solidaritas lintas iman, karena kemiskinan adalah realitas kemanusiaan bersama.
~ Memadukan ekonomi sosial dan ekologi spiritual, agar pembangunan tidak hanya mengejar pertumbuhan tetapi juga keberlanjutan.
5. Kasih sebagai Spiritualitas Sosial dan Ekonomi
Paus Leo XIV menyadari bentuk kemiskinan baru di dunia modern: kemiskinan digital, ekologis, dan moral. Ia menekankan pentingnya tanggung jawab sosial ekonomi yang berorientasi pada keadilan, termasuk melalui Corporate Social Responsibility (CSR) dan model social entrepreneurship.¹⁰
Dalam konteks Indonesia, tanggung jawab sosial ini harus diarahkan pada pemberdayaan usaha mikro, pelestarian lingkungan, serta peningkatan kapasitas perempuan dan anak. Prinsip Triple Bottom Line people, planet, profit menjadi cermin kasih sosial yang terintegrasi antara iman dan pembangunan.¹¹
Dengan demikian, kasih bukan hanya berbicara di altar, tetapi juga di ruang ekonomi dan politik. Kasih yang sejati adalah kasih yang menata ulang sistem agar setiap orang memiliki tempat dalam persekutuan manusia.
6. Tradisi Gereja dan Spiritualitas Kasih
Akar teologis Dilexi Te berakar kuat dalam tradisi Bapa Gereja.
St. Yohanes Krisostomus menulis, “Tidak memberi kepada orang miskin berarti mencuri dari mereka.”¹²
St. Ambrosius menegaskan bahwa harta dunia adalah milik bersama, bukan monopoli segelintir orang.¹³
St. Laurensius menunjukkan kaum miskin kepada penguasa sambil berkata, “Inilah harta Gereja.”
Tradisi ini meneguhkan pesan Dilexi Te: kasih bukan milik hati yang saleh, tetapi tindakan yang adil. Ia adalah spiritualitas yang menyatukan liturgi dan kehidupan, altar dan jalanan.
7. Penutup: Kasih yang Membebaskan dan Mengubah Dunia
Seruan Dilexi Te menampilkan kasih sebagai jantung Gereja yang hidup. Kasih yang sejati tidak berhenti pada belas kasihan, melainkan mengantar pada pembebasan. Seperti ditulis Paus Leo XIV,
“Love that does not liberate is not love at all.”¹⁴
Dalam konteks Indonesia, pesan ini menjadi panggilan agar Gereja berani menghadirkan kasih sebagai praksis sosial: mendengar jeritan masyarakat miskin, membangun keadilan ekologis, serta memperjuangkan ekonomi yang manusiawi.
Kasih dalam Dilexi Te adalah kasih yang turun dari altar menuju pasar, dari doa menuju tindakan, dari wacana menuju perjumpaan. Dalam wajah orang miskin, Gereja menemukan kembali Kristus — Allah yang berkata: ‘Aku telah mengasihimu.
Daftar Pustaka
1. Leo XIV, Apostolic Exhortation Dilexi Te on Love for the Poor, Vatican City: Libreria Editrice Vaticana, 2025.
2. Francis, Evangelii Gaudium: The Joy of the Gospel, Vatican City: Libreria Editrice Vaticana, 2013.
3. Second Vatican Council, Gaudium et Spes (Pastoral Constitution on the Church in the Modern World), Vatican City, 1965.
4. Gustavo Gutiérrez, A Theology of Liberation: History, Politics, and Salvation, New York: Orbis Books, 1973.
5. Benedict XVI, Caritas in Veritate, Vatican City: Libreria Editrice Vaticana, 2009.
6. John Paul II, Sollicitudo Rei Socialis, Vatican City: Libreria Editrice Vaticana, 1987.
7. Ambrose of Milan, De Nabuthe Jezraelita, PL 14.
8. John Chrysostom, Homilies on the Gospel of Matthew, Homily 50.
9. Pontifical Council for Justice and Peace, Compendium of the Social Doctrine of the Church, Vatican City, 2004.
10. Pope Francis, Fratelli Tutti: On Fraternity and Social Friendship, Vatican City, 2020.
11. Bevans, Stephen B., Models of Contextual Theology, Maryknoll: Orbis Books, 1992.
12. Badan Pusat Statistik (BPS), Statistik Kemiskinan Indonesia Tahun 2025, Jakarta: BPS, 2025.
Komentar
Posting Komentar