Yesus Kristus Harapan Kita

Katekese Yubileum 2025, Gesù Cristo, Nostra Speranza; "Yesus Kristus Harapan Kita," disampaikan Papa Leone XIV dalam audiensi umum pertamanya.  Katekese ini melanjutkan tema yang dimulai oleh Papa Francesco✝︎

                                 Gambar: L'Osservatore Romano

Poin-Poin Refleksi Papa Leone XIV

Dalam katekese pertamanya, Papa Leone XIV menggunakan perumpamaan penabur untuk menjelaskan bagaimana perumpamaan Yesus selalu diambil dari realitas kehidupan sehari-hari.  

Papa Leone menjelaskan perumpamaan penabur (Matius 13:1-17) sebagai pengantar bagi semua perumpamaan Yesus lainnya,  menunjukkan cara berkomunikasi Yesus yang relevan bagi pewartaan Injil masa kini.  Setiap perumpamaan, berakar pada kehidupan sehari-hari, menyimpan makna yang lebih dalam, menantang kita untuk merenungkan posisi kita sendiri di dalam perumpamaan tersebut. Kata "perumpamaan" (dari bahasa Yunani paraballein) artinya "melemparkan ke hadapan,"  menunjukkan bahwa perumpamaan  memicu pertanyaan dan introspeksi.

Perumpamaan penabur mengilustrasikan dinamika Sabda Allah dan dampaknya. Sabda Allah, seperti benih, ditaburkan di berbagai jenis tanah hati kita, dunia, komunitas, dan Gereja dan menghasilkan buah dengan cara yang berbeda-beda.  Penabur dalam perumpamaan tersebut menabur benih tanpa memperhitungkan kondisi tanah, mencerminkan kasih Allah yang tak kenal lelah dan penuh harapan. Allah menaburkan firman-Nya di segala kondisi, percaya bahwa benih tersebut akan berbuah pada waktunya.  Hal ini menunjukkan kasih Allah yang tidak menunggu kita menjadi "tanah" yang ideal, tetapi selalu memberikan firman-Nya dengan murah hati.

Papa Leone menghubungkan perumpamaan tersebut dengan lukisan Van Gogh, "The Sower at Sunset,"  di mana matahari menggambarkan Allah yang menggerakkan sejarah, meskipun terkadang tampak jauh atau tidak ada.  Matahari menghangatkan bumi dan mematangkan benih, menjadi simbol harapan dan campur tangan ilahi.  Benih yang menghasilkan buah menggambarkan harapan bahwa Sabda Allah akan berbuah, meskipun kita tidak selalu tahu bagaimana caranya.

Papa Leone mengajak kita untuk merenungkan bagaimana Sabda Allah itu mencapai kita dalam kehidupan, sambil memohon rahmat untuk selalu menyambut Sabda Allah sebagai benih.  

Papa Leone juga menghimbau agar mereka yang merasa bukan tanah yang subur tidak berkecil hati, melainkan meminta Allah untuk bekerja dalam diri mereka agar menjadi tanah yang lebih baik.

                  ──────⊹⊱✫⊰⊹──────

- Fokus pada "gaya (cara) berkomunikasi Yesus":  Papa Leone menekankan bahwa perumpamaan penabur bukan hanya tentang makna literalnya, tetapi juga tentang cara atau gaya Yesus berkomunikasi.  Ini adalah poin penting bagi pewartaan Injil modern.  Penggunaan cerita sehari-hari, yang relatable dan mudah dipahami,  tetap menjadi metode yang efektif untuk menyampaikan kebenaran spiritual yang kompleks.  Papa Leone mendorong kita untuk merenungkan bagaimana kita sendiri dapat mengadaptasi metode ini dalam kehidupan kita.

- Perumpamaan sebagai panggilan untuk introspeksi:  Papa Leone mengingatkan kita bahwa perumpamaan bukan hanya untuk didengarkan secara pasif.  Pertanyaan "di mana saya dalam kisah ini?"  menunjukkan pentingnya refleksi pribadi dan penerapan makna perumpamaan dalam kehidupan kita sendiri.  Ini mendorong pendengar untuk terlibat aktif dalam proses pemahaman dan perubahan.

- Kedermawanan Allah:  Gambaran penabur yang menebar benih tanpa peduli di mana ia jatuh adalah analogi yang kuat tentang cinta Allah yang tak bersyarat.  Allah tidak menunggu sampai kita "layak" menerima berkat-Nya, tetapi selalu murah hati "memberi" (Sabda-Nya), bahkan kepada mereka yang tampaknya tidak siap menerimanya.  Ini adalah pesan harapan yang kuat, khususnya bagi yang merasa tidak layak atau tidak pantas akan kasih Allah.

- Tanah sebagai metafora hati dan dunia:  Interpretasi tanah sebagai hati kita, dunia, komunitas, dan Gereja memperluas cakupan perumpamaan.  Ini menunjukkan bahwa firman Allah memiliki dampak pada setiap aspek kehidupan kita dan seluruh ciptaan. 

- Harapan yang berakar pada kemurahan hati Allah:  Papa Leone menggarisbawahi bahwa harapan kita tidak bergantung pada kemampuan kita sendiri, tetapi pada kemurahan hati dan belas kasihan Allah.  Ini adalah fondasi yang kokoh untuk harapan yang sejati, karena ia berpusat pada Allah yang selalu setia.

- Kematian benih sebagai simbol pengorbanan: benih harus mati untuk berbuah adalah pengingat akan pengorbanan Yesus di kayu salib.  Ini menghubungkan perumpamaan dengan inti ajaran tentang penebusan dosa dan transformasi kehidupan melalui kematian dan kebangkitan Kristus.

- Penggunaan seni sebagai alat refleksi:  Papa Leone menggunakan referensi lukisan Van Gogh dalam renungannya (memuat dimensi estetika, emosional serta memperkaya pemahaman dan pengalaman spiritual). Penggambaran matahari yang dominan dalam lukisan Van Gogh, menguatkan pesan tentang peran Allah sebagai penggerak utama sejarah.

                 ──────⊹⊱✫⊰⊹──────

Ia berbicara kepada mereka panjang lebar dalam perumpamaan (Mat 13:3a)

Saudara-saudari terkasih,

Saya senang menyambut Anda sekalian dalam Audiensi Umum pertama saya ini. Hari ini saya akan melanjutkan katekese masa Yubileum ini, dengan tema “Yesus Kristus Harapan Kita”, yang dimulai oleh Papa Francesco. 

Marilah kita merenungkan perumpamaan Yesus, untuk membantu kita mendapatkan kembali harapan, karena perumpamaan itu menunjukkan kepada kita bagaimana Allah bekerja dalam sejarah. Hari ini saya ingin membahas sebuah perumpamaan yang agak unik, karena merupakan semacam pengantar bagi semua perumpamaan. Saya merujuk pada perumpamaan penabur (bdk. Mat 13:1-17). Dalam arti tertentu, dalam kisah ini kita dapat mengenali gaya (cara) Yesus berkomunikasi, yang banyak mengajarkan kita untuk mewartakan Injil dewasa ini.

Setiap perumpamaan menceritakan sebuah kisah yang diambil dari kehidupan sehari-hari, namun ingin memberi tahu kita sesuatu yang lebih, untuk merujuk kita pada makna yang lebih dalam. Perumpamaan menimbulkan pertanyaan dalam diri kita; perumpamaan itu mengundang kita untuk tidak berhenti pada yang tampak. Sebelum kisah diceritakan atau gambar disajikan kepada saya, saya dapat bertanya pada diri sendiri: di mana saya dalam kisah ini? Apa yang dikatakan gambar ini untuk hidup saya?  

Faktanya, istilah "perumpamaan" berasal dari kata kerja Yunani paraballein, yang berarti "melemparkan ke depan". Perumpamaan melemparkan di hadapan saya sebuah kata yang memprovokasi saya dan mendorong saya untuk mempertanyakan diri saya sendiri.

Perumpamaan penabur berbicara tepat tentang dinamika Sabda Allah dan dampak yang dihasilkannya. Sesungguhnya, setiap Firman - Injil seperti benih yang dilemparkan ke tanah kehidupan kita. Yesus menggunakan gambaran benih berkali-kali, dengan makna yang berbeda. Dalam pasal 13 Injil Matius, perumpamaan penabur memperkenalkan serangkaian perumpamaan pendek lainnya, beberapa di antaranya berbicara tepat tentang apa yang terjadi di ladang: gandum dan lalang, biji sesawi, harta terpendam di ladang. Lalu, apakah tanah ini? Itu adalah hati kita, tetapi juga dunia, komunitas, Gereja. Sabda Allah, pada kenyataannya, menjadikan setiap realitas berbuah dan memprovokasi.

Pada awalnya, kita melihat Yesus keluar dari rumah dan kerumunan orang berkumpul di sekeliling-Nya (bdk. Mat 13:1). Kata-kata-nya (Sabda) memikat dan menarik. Di antara orang-orang itu jelas ada banyak situasi yang berbeda. Kata-kata Yesus ditujukan kepada semua orang, tetapi ia bekerja dalam setiap orang dengan cara yang berbeda. Konteks ini memungkinkan kita lebih memahami makna perumpamaan tersebut.

Seorang penabur agak tidak biasa pergi untuk menabur, tetapi tidak peduli ke mana benih itu jatuh. Ia menaburkan benih bahkan di tempat yang tidak mungkin menghasilkan buah: di jalan, di atas batu, di antara semak duri. Sikap ini mengejutkan pendengar dan mendorongnya untuk bertanya: bagaimana bisa?

Kita terbiasa menghitung segala sesuatu dan kadang-kadang itu perlu tetapi ini tidak berlaku dalam cinta! Cara penabur yang "boros" ini menaburkan benih adalah gambaran bagaimana Allah mengasihi kita. Memang, benar bahwa nasib benih juga bergantung pada cara bumi menerimanya dan situasi di mana ia berada, tetapi pertama-tama dalam perumpamaan ini Yesus memberi tahu kita bahwa Allah menaburkan benih Sabda-Nya pada semua jenis tanah, yaitu, dalam situasi kita apa pun: kadang-kadang kita lebih dangkal dan teralihkan, kadang-kadang kita membiarkan diri kita terbawa oleh antusiasme, kadang-kadang kita dibebani oleh kekhawatiran hidup, tetapi ada juga saat-saat ketika kita bersedia dan menyambut. Allah percaya dan berharap bahwa cepat atau lambat benih itu akan bersemi. Inilah cara Dia mengasihi kita: Dia tidak menunggu kita menjadi tanah yang terbaik, tetapi Dia selalu dengan murah hati memberi kita firman-Nya. Mungkin dengan melihat bahwa Dia mempercayai kita, keinginan untuk menjadi tanah yang lebih baik akan dinyalakan (ditumbuhkan) dalam diri kita. Inilah harapan, yang didasarkan pada kekuatan kemurahan hati dan belas kasihan Allah.

Dalam menceritakan bagaimana benih itu berbuah, Yesus juga berbicara tentang kehidupan-Nya. Yesus adalah Firman, Dia adalah Benih. Dan benih, untuk berbuah, harus mati. Jadi, perumpamaan ini mengingatkan kita bahwa Allah siap untuk "selesai" bagi kita dan bahwa Yesus bersedia mati untuk mengubah hidup kita.

Saya teringat lukisan indah Van Gogh, Penabur saat Matahari Terbenam. Gambar penabur di bawah terik matahari itu juga berbicara kepada saya tentang kerja keras petani. Dan saya terpikir bahwa, di belakang penabur, Van Gogh menggambarkan biji-bijian yang sudah matang. Itu tampak bagi saya sebagai gambaran harapan: dengan satu atau lain cara, benih itu telah berbuah. Kita tidak yakin bagaimana, tetapi telah berbuah. Namun, yang berada di tengah adegan bukanlah penabur, yang berdiri di samping; sebaliknya, seluruh lukisan didominasi oleh gambar matahari, mungkin untuk mengingatkan kita bahwa Allahlah yang menggerakkan sejarah, meskipun terkadang Dia tampak tidak ada atau jauh. Mataharinya yang menghangatkan gumpalan tanah dan membuat benih matang. 

Saudara-saudari terkasih, dalam situasi kehidupan apa hari ini Sabda Allah sampai kepada kita? Marilah kita meminta kepada Tuhan karunia untuk selalu menyambut benih ini yang merupakan Firman-Nya. Dan jika kita menyadari bahwa kita bukanlah tanah yang subur, marilah kita jangan berkecil hati, tetapi meminta kepada-Nya untuk bekerja lebih keras pada kita agar kita menjadi tanah yang lebih baik. (Leone PP XIV 21 Mei 2025)

                 ──────⊹⊱✫⊰⊹──────

Himbauan Kemanusiaan untuk Warga  Jalur Gaza

Situasi di Jalur Gaza semakin memprihatinkan dan menyedihkan.  Saya kembali menyerukan dengan sungguh-sungguh agar akses bantuan kemanusiaan segera dibuka dan permusuhan dihentikan.  Anak-anak, orang tua, dan para penderita adalah yang paling merasakan dampak pilu konflik ini.

Sambutan Hangat dan Doa

Salam hangat saya sampaikan kepada para peziarah berbahasa Italia, khususnya para imam dari Seminari Tinggi Kepausan Lombardia dan para Legioner Kristus.  Semoga hidup Anda senantiasa berpedoman pada ajaran Yesus dan kekuatan Firman-Nya, sehingga menjadi pewarta yang berani.

Salam juga untuk para Suster Santo Yosef dari Annecy dan para Biarawati Sengsara Yesus Kristus yang sedang merayakan Kapitel Umum.  Doa saya menyertai Anda agar karya kerasulan Anda senantiasa diberkati Tuhan.

Kepada kelompok-kelompok paroki, saya sampaikan kasih sayang dan dorongan untuk senantiasa setia mengikuti ajaran Injil, menjadi umat Kristiani yang autentik dalam keluarga dan masyarakat.

Semoga kaum muda, orang sakit, dan pengantin baru senantiasa melayani Tuhan dengan sukacita dan mengasihi sesama dengan semangat Injil.

Akhir kata, marilah kita mengenang dengan penuh syukur Papa Francesco yang terkasih, yang telah kembali ke rumah Bapa.

Berkat saya untuk semua.

              ──────⊹⊱✫⊰⊹──────

Perumpamaan berfungsi mempertentangkan/mengkontraskan.

Perumpamaan (Yun.parabole). Nomina itu berasal dari verba (kata kerja, red.) paraballein, artinya meletakkan sesuatu di samping sesuatu untuk dibandingkan. Perumpamaan=perbandingan. Sebuah perbandingan yang dapat memperlihatkan persamaan, atau sebaliknya memperlihatkan perbedaan, bahkan kontras. Dalam buku The Parables Then and Now, A.M. Hunter menegaskan bahwa banyak argumentasi Yesus berfungsi, "by contraries, the point lies not in the similariy but in the contrast."("dengan pertentangan, hal yang terpenting bukan terletak pada persamaan, tetapi pada perbedaan", red.)

Https://www.vatican.va/content/leo-xiv/it/audiences/2025/documents/20250521-udienza-generale.html?fbclid=PAQ0xDSwKbXiJleHRuA2

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Khotbah Inagurasi Papa Leone XIV: Tiga Pesan Utama

Refleksi Atas APOSTOLIC EXHORTATION DILEXI TE