Khotbah Inagurasi Papa Leone XIV: Tiga Pesan Utama

                                      Gambar: Diocesi di Roma

1. BERSATU DALAM KASIH DAN PERSATUAN

Papa Leone XIV membuka homilinya dengan penuh kerendahan hati, menyadari bahwa ia dipanggil bukan karena kehebatan dirinya, tetapi karena rahmat Tuhan semata. Ia berkata:

"Aku dipilih, tanpa jasa apa pun dariku sendiri, dan sekarang, dengan rasa takut dan gentar, aku datang kepada kalian sebagai seorang saudara, yang ingin menjadi pelayan bagi iman dan sukacita kalian, berjalan bersama kalian di jalan kasih Allah, sebab Ia ingin kita semua bersatu dalam satu keluarga."

Il Papa mengingatkan bahwa misi yang Tuhan berikan kepada Petrus dan kini kepada para penerusnya, adalah membawa kasih dan persatuan di tengah dunia. Dalam Injil hari ini, Yesus mengutus para murid untuk menjadi "penjala manusia", agar semua orang merasakan harapan Injil dan pelukan kasih Allah.

Pengalaman Petrus yang pernah jatuh dan menyangkal Yesus, namun tetap diterima oleh kasih Allah yang tanpa syarat, menjadi dasar kekuatan bagi misinya. Hal ini juga menjadi teladan bagi Gereja untuk terus bersatu dan penuh kasih, sekalipun lemah dan penuh keterbatasan. 

2. KASIH YANG BERKORBAN

Papa Leone XIV melanjutkan dengan menegaskan bahwa kasih sejati adalah kasih yang siap berkorban, sebagaimana Yesus meminta Petrus untuk mencintai lebih dan menyerahkan hidupnya bagi umat.

"Pelayanan Petrus ditandai justru oleh kasih yang berkorban ini, karena Gereja Roma memimpin dalam kasih, dan otoritas sejatinya adalah kasih Kristus."

Ia menolak cara-cara kekuasaan dan paksaan dalam menyebarkan iman. Gereja, menurutnya, tidak bertugas "menangkap orang dengan kekuatan, propaganda, atau kekuasaan," melainkan:

"Selalu dan hanya soal mengasihi seperti Yesus mengasihi."

Inilah inti dari pelayanan Gereja: bukan menguasai, melainkan mengasihi dan melayani dengan kerendahan hati. Otoritas sejati Gereja berasal dari cinta, bukan kekuatan.

3. GEREJA, TANDA PERSATUAN DAN PERSEKUTUAN

Dalam bagian akhir kotbahnya, Il Papa mengungkapkan kerinduan agar Gereja menjadi tanda nyata dari persatuan dan persekutuan di dunia yang terpecah oleh kebencian, kekerasan, ketidakadilan, dan kerusakan lingkungan.

Ia mengatakan bahwa Gereja harus menjadi:

"Ragi kecil dari persatuan, persekutuan, dan persaudaraan di tengah dunia."

Dengan rendah hati dan penuh semangat misioner, Paus mengajak semua orang, baik umat Katolik, gereja-gereja Kristen lainnya, penganut agama lain, para pencari Tuhan, dan semua orang berkehendak baik, untuk bersama-sama membangun dunia yang damai, adil, dan penuh kasih.

"Mari kita berkata kepada dunia, dengan rendah hati dan sukacita: Pandanglah Kristus! Dekatlah kepada-Nya! Sambutlah sabda-Nya yang menerangi dan menghibur! Dengarkan tawaran kasih-Nya dan jadilah satu keluarga dalam Dia!"

Sebagai penutup, Il Papa mengajak kita semua untuk terbuka pada bimbingan Roh Kudus agar kita bisa menjadi Gereja yang misioner, terbuka, penuh kasih, dan menjadi tanda harapan bagi dunia:

"Bersama, sebagai satu umat, sebagai saudara dan saudari, marilah kita berjalan menuju Allah dan saling mengasihi."

                   ──────⊹⊱✫⊰⊹──────

Saudara-saudara Kardinal yang terkasih, Saudara-saudara Uskup dan Imam, Pimpinan dan Anggota Korps Diplomatik yang terhormat, Salam bagi para peziarah yang datang pada kesempatan Yubelium Persaudaraan!

Saudara-saudari!

Saya menyapa kalian semua dengan hati penuh rasa syukur di awal pelayanan yang telah dipercayakan kepada saya. Santo Agustinus menulis: “Tuhan, Engkau telah menciptakan kami untuk diri-Mu sendiri, dan hati kami gelisah sampai kami beristirahat di dalam-Mu”.(Confessions, I: 1,1).

Dalam beberapa hari terakhir ini, kita telah mengalami saat-saat yang sangat berat. Meninggalnya Papa Francesco memenuhi hati kita dengan kesedihan. Pada saat-saat yang sulit itu, kita merasa "seperti domba-domba tanpa gembala" (Mat. 9:36). Namun pada hari Minggu Paskah, kita menerima berkat terakhirnya dan, dalam terang kebangkitan, kita mengalami hari-hari berikutnya dengan kepastian bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya, tetapi mengumpulkan mereka ketika mereka tercerai-berai dan menjaga mereka “seperti seorang gembala menjaga kawanan dombanya” (Yer 31:10).

Dalam semangat iman ini, Dewan Kardinal bertemu untuk konklaf. Berasal dari latar belakang dan pengalaman yang berbeda, kami menyerahkan keinginan kami untuk memilih Pengganti Petrus yang baru, Uskup Roma, ke dalam tangan Tuhan, seorang gembala yang mampu melestarikan warisan iman Kristen yang kaya dan, pada saat yang sama, memandang ke masa depan, untuk menghadapi pertanyaan, keprihatinan/kegelisahan, dan tantangan dunia saat ini. Diiringi oleh doa-doa Anda semua, kami dapat merasakan karya Roh Kudus, yang mampu membawa kami ke dalam harmoni, seperti alat musik, sehingga sanubari kami dapat bergetar dalam satu melodi.

Saya dipilih tanpa jasa dan, dengan takut dan gentar, saya datang kepada Anda semua sebagai saudara yang ingin pelayan iman dan sukacita kalian, berjalan bersama kalian di jalan kasih Allah, yang menginginkan kita semua bersatu dalam satu keluarga.

Cinta dan Persatuan: inilah dua dimensi dari misi yang dipercayakan kepada Petrus oleh Yesus.

Perikop Injil memberitahukan hal ini kepada kita, membawa kita ke Danau Tiberias, danau yang sama di mana Yesus memulai misi yang Dia terima dari Bapa: "menjala" manusia untuk menyelamatkannya dari air kejahatan dan kematian (kebinasaan). Saat melewati tepi danau itu, Dia memanggil Petrus dan murid-murid-Nya yang pertama untuk menjadi seperti Dia, "penjala manusia"; dan sekarang, setelah kebangkitan, giliran mereka untuk meneruskan misi ini, menebarkan jala lagi dan lagi untuk membenamkan pengharapan Injil ke dalam air dunia, berlayar di lautan kehidupan agar semua orang dapat menemukan diri mereka di dalam pelukan Allah.

Bagaimana Petrus dapat melaksanakan tugas ini? Injil memberi tahu kita bahwa hal itu mungkin hanya karena hidupnya sendiri tersentuh oleh kasih Allah yang tak terbatas dan tanpa syarat, bahkan pada saat kegagalan dan penyangkalannya. Karena alasan ini, ketika Yesus berbicara kepada Petrus, Injil menggunakan kata kerja Yunani agapáo, yang mengacu pada kasih yang Allah miliki bagi kita, pada persembahan diri-Nya tanpa syarat dan tanpa perhitungan. Sedangkan kata kerja yang digunakan dalam tanggapan Petrus menggambarkan kasih persahabatan yang kita miliki satu sama lain.

Karena itu, ketika Yesus bertanya kepada Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” (Yoh. 21:16), ia mengacu kepada kasih Bapa. Seolah-olah Yesus berkata kepadanya, “Hanya jika engkau telah mengenal dan mengalami kasih Allah ini, yang tidak pernah gagal, barulah engkau dapat menggembalakan domba-domba-Ku; hanya di dalam kasih Allah Bapa, engkau akan dapat mengasihi saudara-saudaramu dengan 'lebih', yaitu dengan mengorbankan nyawamu untuk saudara-saudaramu.

Dengan demikian, Petrus dipercayakan dengan tugas untuk "lebih mengasihi" dan menyerahkan hidupnya bagi kawanan domba. Pelayanan Petrus dibedakan justru oleh kasih yang rela berkorban ini, karena Gereja Roma memimpin dalam kasih dan otoritasnya yang sejati adalah kasih Kristus. Ini bukan masalah menangkap orang lain dengan paksa, dengan propaganda agama atau dengan cara kekuasaan. Sebaliknya, ini selalu dan hanya masalah mengasihi seperti yang Yesus lakukan.

Rasul Petrus sendiri mengatakan kepada kita bahwa Yesus “adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan, yaitu kamu sendiri, tetapi telah menjadi batu penjuru” (Kisah Para Rasul 4:11). Lebih dari itu, jika batu karang itu adalah Kristus, Petrus harus menggembalakan kawanan domba itu tanpa pernah menyerah kepada godaan untuk menjadi seorang otokrat, memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadanya (lih. 1 Pet 5:3). Sebaliknya, ia dipanggil untuk melayani iman saudara-saudarinya, dan untuk berjalan bersama mereka, karena kita semua adalah “batu-batu hidup” (1 Pet 2:5), dipanggil melalui baptisan kita untuk membangun rumah Allah dalam persekutuan persaudaraan, dalam keharmonisan Roh, dalam koeksistensi keberagaman. Dalam kata-kata Santo Agustinus: “Gereja terdiri dari semua orang yang rukun dengan saudara-saudari mereka dan yang mengasihi sesama mereka” (Discorso. 359,9).

Saudara dan saudari, saya ingin hal ini menjadi kerinduan besar kita yang pertama: sebuah Gereja yang bersatu, sebuah tanda persatuan dan persekutuan, yang menjadi ragi bagi sebuah dunia yang didamaikan.

Di masa sekarang ini, kita masih melihat terlalu banyak perselisihan, terlalu banyak luka yang disebabkan oleh kebencian, kekerasan, prasangka, ketakutan akan perbedaan, dan paradigma ekonomi yang mengeksploitasi sumber daya bumi dan meminggirkan yang termiskin. Di pihak kita, kita ingin menjadi ragi kecil persatuan, persekutuan dan persaudaraan di dalam dunia. Kita ingin mengatakan kepada dunia, dengan kerendahan hati dan sukacita: Pandanglah Kristus! Mendekatlah kepada-Nya! Sambutlah sabda-Nya yang mencerahkan dan menghibur! Dengarkan tawaran kasih-Nya dan jadilah satu keluarga-Nya: di dalam satu Kristus, kita adalah satu. Inilah jalan yang harus diikuti bersama, di antara kita sendiri tetapi juga dengan gereja-gereja Kristen saudari kita, dengan mereka yang mengikuti jalan agama lain, dengan mereka yang mencari Tuhan, dengan semua wanita dan pria yang berkehendak baik, untuk membangun dunia baru di mana perdamaian berkuasa!.

Inilah semangat misioner yang harus menggerakkan kita; tidak menutup diri dalam kelompok-kelompok kecil kita, atau merasa lebih unggul dari dunia. Kita dipanggil untuk menawarkan kasih Allah kepada semua orang, untuk mencapai kesatuan yang tidak meniadakan perbedaan tetapi menghargai sejarah pribadi setiap orang dan budaya sosial dan agama setiap orang.

Saudara-saudari, inilah saatnya untuk mengasihi! Inti dari Injil adalah kasih Allah yang menjadikan kita saudara-saudari. Bersama pendahulu saya Leo XIII, kita dapat bertanya kepada diri kita sendiri hari ini: Jika kriteria ini “berlaku di dunia, bukankah setiap pertikaian akan berakhir dan perdamaian akan kembali?” (Rerum Novarum, 21).

Dengan terang dan kekuatan Roh Kudus, marilah kita membangun Gereja yang didirikan atas dasar kasih Allah, tanda persatuan, Gereja misioner yang membuka tangannya kepada dunia, mewartakan sabda, membiarkan dirinya dibuat "gelisah" oleh sejarah, dan menjadi ragi keharmonisan bagi umat manusia.

Bersama-sama, sebagai satu umat, sebagai saudara dan saudari, marilah kita berjalan menuju Allah dan saling mengasihi.

                ──────⊹⊱✫⊰⊹──────

https://bit.ly/4jdUnKi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yesus Kristus Harapan Kita

Refleksi Atas APOSTOLIC EXHORTATION DILEXI TE